Selasa, 18 Juni 2013

PUISIKU

SALAH SIAPA?
Ini adalah teguran
Bukan sekedar berita di Koran
Yang dijajakan penjual asongan
Dan loper Koran
Yang dibaca orang gedongan
Atau pelataran dan gelandangan

Bencana……………………………….
Gempa………..Badai……..banjir dan tanah longsor
Timbun rakyat andap asor
Wartawan dikejar terkapar
Pramugari ditampar memar
Wanita balita tak bersusila, tak sadar!
Salah siapa?

Ini adalah teguran
Si klewang yang jelata
Merasa perkasa dengan mata
Nanar berbinar sangar
Jahanam…………!
Padahal renta dan tak bertahta

Si Dewan di atas awan
Menstinya jadi kawan dan penawar
Di saat kekurangan dan kelaparan
Ealhahh…………..malah melawan
Harta kawan dimakan
Bahkan rebutan
Me-ma-lu-kan!!!
Salah siapa………….??????????????

                                                              (Cilacap, 14 Juni 2013)

Kamis, 30 Mei 2013

PUISIKU


BUAT PAK GANJAR-HERU
dari kami rakyat sejati

Ini bukan basa-basi tanpa arti,
ini realisasi terkini,
tanpa gosip langsung jadi,
GANJAR-HERU figur masa kini,
walau bukan pilihan kami, tapi ikhlas dalam hati, 
tanpa iri dengki,
janji jangan diingkari,
itu harapan kami,
SELAMAT BERJUANG..............
Majukan Jateng hingga nanti
                             
                                     (Cilacap, 27 Mei 2013)

Minggu, 19 Mei 2013

CUILAN CERPENKU

...............................................................................

Walaupun sudah kupersiapkan untuk mengungkapkan semua rencana itu, toh aku merasa sedih dan nelongso juga. Aku tak bisa menahan air mata ini meleleh membasahi pipiku ketika aku tak sengaja menemukan sepucuk surat yang ditulis ibunya, mertuaku. Di dalam suratnya itu tergores rasa sedihnya. Dijelaskan di sana bahwa beliau sangatlah mendambakan seorang cucu. Namun, hal itu tak kunjung datang. Setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga sekarang masuk tahun ke tujuh tak jua datang tanda-tanda. Sebagai seorang wanita, aku cukup peka dan tahu diri atas kekuranganku ini. Oleh sebab itu sebenarnya aku sudah mengatur saat yang tepat untuk menyampaikan rencana yang kususun berdasarkan ketulusan, keikhlasan, dan kasih sayang. Walaupun mungkin cukup mengagetka hati suamiku.
            Ya ……………………hampir kami tak pernah bertengkar. Suamiku sungguh sangat menyayangiku apa adanya. Dan aku sendiri juga sangat mencintai dia dengan sepenuh hati. Apalagi dia adalah sosok suami yang menyenangkan dan nyaris tak punya kekurangan.
           ............................................................................................................................ 

CUILAN CERPENKU

......................................................................................................

Kuingin kau selalu melihat jendelaku agar setiap saat aku dapat melihat wajahmu. Tapi kenapa kau lebih senang duduk di bawah pohon cemara menunggu daun kering berguguran. Sesekali kau ambil daun kering berujung tajam lalu kau mainkan dengan sebelah tangan dan kau putar-putar. Walau hanya punggung yang bisa kulihat, tapi aku bisa membaca wajahmu. Dan aku tahu kau.
            Menurutku, ketika laki-laki menangis, bukan sebutan cengeng atau kurang jantanlah. Tapi lihatlah betapa sangat beratnya dia menahan derita sehingga dia perlu mengeluarkan air matanya yang berharga itu. Dia tidak perlu orang mendekatinya, dia juga tidak perlu orang untuk menghiburnya. Yang diperlukan hanyalah beberapa menit untuk menenangkan batin. Menangis merupakan dinamika emosi yang ada di setiap manusia, entah itu wanita maupun pria.
            Bicara soal nangis, aku jadi malu sendiri. Belum lama kenal Baskoro aku sudah beberapa kali nangis padanya. Entahlah aku merasa dekat dengannya. Di hatiku Baskoro adalah adikku. Pantaslah kalau kakak curhat ke adiknya. Walaupun pernah terselip perasaan nggak enak.
……………………………………………………………………………..

PUISIKU


AKU

Di setiap kosongku
Aku termangu
Kuratapi diri
Menangis sedih
Kubunuh aku, dari segala protesku
Kukubur aku agar tak berasa apa
Kini aku mayat
                Aku adalah mayat yang hidup
                Yang harus selalu senyum           
               
                                                         (Cilacap, 2010) 

PUISIKU


KIDUNG UNTUK ANAKKU

Anakku……
Ibu masih ingat ketika berbadan besar karena mengandungmu
Ibu merasa keajaiban dan kebesaran alloh
Sembilan bulan, Nak…….
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak bahagia
Engkau menendang rahim ibu ketika merasa tak nyaman
Karena ibu kecewa dan berurai air mata
Anakku………..ketika ibu berjuang melahirkanmu
Seperti menunggu antrean memasuki pintu surga
Dan saat itu ibu merasakan………
Kedahsyatan dan kebesaran Alloh menyelimuti kita
Malaikat tersenyum di antara peluh dan rasa sakit
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapa pun
Dan ketika engkau hadir……..tangismu memecahkan dunia
Menghilangkan rasa dan derita.
Allohu akbar

Setiap malam kutidurkan dan kutimang dengan lagu
Kubesarkan engkau dengan tetesan susu tanpa ragu
Hangatnya bibir dan badanmu tak mengganggu tidurku
Ini adalah luar biasa, tak bisa orang lain tahu rasaku

Ibu rela duduk lama menemani mewarnai
Dan menemani setiap kompetisi
Tingkat kecamatan sampai propinsi

Kini kau telah dewasa
Tahu arti nikmat dan dosa
Dalam dinamika kehidupan nyata

Nak…………
Hidup ini tidak abadi
Ibu tak bisa terus menemani
Karena ibu harus kembali
                                                           
                                                            (Cilacap, 19 Mei 2013)

PUISIKU


Sajak Buat “Adikku”

Tlah jauh, kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Tlah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah aku di sini
Jangan kau ikut ke sini................

                                          (Januari 2013)